Jangan ‘tidur’ karena OBAT tidur!

Semangat Pagi!

Berikut adalah kutipan tulisan yang saya dapat dari http://wp.me/p1Hg2-8sf :

“I used to take sleeping pills,” he said, “and slowly boosted the number of pills I took. In the end, they had absolutely no effect on me, and I could have gulped any number of them, and still not have got to sleep. I repeatedly took such high dosages, I should have died. But I only ever vomited them up. Then I would be unable for days to pursue the least thought, and it was precisely this inability to think that got me through long periods of complete horror … You have to be careful you don’t end up living for longer than your natural lifespan,” he said …

Yang kalo boleh, saya mengartikannya begini.
Jika kita ditimpa masalah, lalu me ‘nyelesai’ kannya dengan mengambil jalan pintas, maka sama saja dengan menambah masalah baru. Masalah susah tidur misalnya, jangan dianggap bisa selesai…

View original post 141 more words

Image

Mistakes never happened BY MISTAKE!

but those mistakes are now becoming a very good lesson
so good, that i wouldn’t want to regret anything
those mistakes were absolutely meant to be
so that they could make me who i am today

*feelingblessed

Image

Yang Penting Selalu Siap akan Sebab-Akibat

Pernah kan liat orang yang kalo dilarang malah makin jadi?

Mmm mungkin juga karna CARA ngelarangnya yang ga pas, makanya orang jadi OGAH nurut.
Atw, karna emang ga suka sama yang ngelarang, jadi malah memicu DEMO.

Tapi memang pada dasarnya, semakin ada ‘larangan’, orang akan semakin PENASARAN. Ada ‘godaan’ tuk malah nge’bongkar’…

Temptation, alias godaan itu, mungkin bisa aja dilakoni. Asal terkendali.
Artinya, menyalurkan rasa penasaran tadi dengan kesadaran penuh, sehingga bila terjadi sesuatu di KEMUDIAN HARI, diri sendiri sudah (sangat) SIAP menghadapi.

#teorisaya

Image

Ucapkan…

Subhanallah
Alhamdulillah
Laa illaaha illallah
Allahu akbar

#dzikir

Image

… a room for improvement…

Image

Tahukah Anda?

Jika ada tontonan yang menampilkan perdebatan atau yang sejenisnya, siapa yang paling dulu muncul sebagai ‘pemenang’?

Jika ada siaran radio yang memperdengarkan perdebatan atau yang sejenisnya, siapa pula yang paling dulu muncul sebagai ‘pemenang’?

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, jawabnya adalah: PENONTON atau PENDENGAR.

Karena, di antara para pendebat dan penonton / pendengar, yang lebih ‘pintar’ adalah yang kedua!

Seringkali bahkan, lebih bijak. Karena relatif lebih bisa melihat permasalahan secara obyektif. Pun, lebih mampu menilai perilaku para pendebat, siapa yang paling ‘pintar’ berargumentasi.

Mungkin itu sebabnya, mengapa selalu ada pihak ketiga dalam setiap perdebatan. Ibaratkan saja perdebatan itu terjadi antara dua pihak, karena memang, suatu perdebatan baru bisa terjadi jika minimal ada dua pihak yang ‘berseberangan’.

Pihak berikutnya adalah ‘penonton’. Bisa dalam arti sebenarnya, dengan kata lain, benar-benar menonton, posisi di luar ‘panggung’. Bisa juga dalam arti semacam moderator, mediator, penengah dsb. Atau, bisa juga pihak ketiganya berupa rekaman audio / visual. Yang jika dimainkan ulang, bisa langsung diteruskan tayangannya kepada penonton / pendengar sesungguhnya. Seperti yang baru saja saya dengar sore tadi…

Sebuah rekaman percakapan antara dua pihak yang (cenderung) berseberangan. Satu sama lain saling mempertahankan kebenaran. Meskipun kebenaran yang dimaksud sebenarnya sepihak. Artinya, hanya ‘benar’ menurut pertimbangan pribadi. Tidak berlaku umum. Subyektif.

Dan subyektifitas itu, sangat bisa berujung pada pergolakan emosional, lalu berakhir dengan pertengkaran. Tak jarang bahkan melibatkan pergulatan fisik!

Tapi saya, sebagai penonton, pendengar, pihak ketiga, tentu akan lebih pintar. Lebih bisa melihat permasalahan secara utuh, bahkan lebih bisa mencarikan solusi. Sayangnya, tak seorang pun yang MAU bertanya kepada saya. Para pendebat cenderung menyibukkan diri mencari pendukung, menggalang massa dsb.

Akhirnya, SAYA pun lebih memilih pulang, meninggalkan semua keributan di belakang saya. Melenggang santai kembali ke RUMAH. Tempat saya bisa leluasa menuangkan pengalaman sekaligus pembelajaran hidup. Dari tempat belajar yang gratis, tak perlu bayar uang pendaftaran, tak perlu bayar uang sekolah, tak perlu mengenakan seragam…

Bahkan, jika saya mau, saya bisa mendapatkan UANG dari hasil ‘belajar’ saya itu!

Image

Jadi, apa dong namanya?

Image

Previous Older Entries

%d bloggers like this: