BerALASAN?? Mmm… MALAS aja kaliiii… (hehehe)

 

 

Dalam video di atas adalah seseorang yang – sebut saja – punya banyak (sekali) ALASAN untuk – (lagi-lagi) sebut saja – MENYERAH.

Dia miskin, tak punya tempat tinggal, dengan cerita masa lalu yang menyakitkan.

Tapi yang terjadi, dia justru menjadikan alasan-alasan tadi sebagai – sebut saja (maaf yaaa berkali-kali pakai kata ‘sebut saja’, karena memang rasanya cocok sih hehe) – ALASAN UNTUK TIDAK MENYERAH!

Ya, dia memutuskan untuk BERTINDAK (y)

 

 

Selalu beralasan, untuk (tidak) melakukan ini-itu, untuk hal-hal yang sebenarnya tidak membutuhkan alasan…

SEBENARNYA adalah hal yang ‘wajar’.

Artinya, memang hidup ini dipenuhi yang begitu-begitu kok.

Bahwa hidup ini keras, atau kita (merasa) tidak punya cukup kesempatan untuk ini-itu, atau ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu caranya.

Atau… (hanya) sekedar karena tidak mau!

 

 

Padahal, jika kita tengok ke belakang, ke masa lalu, hidup kita ini isinya hanya 2 hal lho.

1. hal-hal yang sudah kita kerjakan, dan

2. hal-hal yang jadi alasan

 

Contoh nih yaaa

Kita bisa saja ‘menyampaikan kepada dunia’ hal-hal yang memang kita lakukan (= melakukan hal-hal yang kita sampaikan), atau tidak sama sekali.

Kita bisa saja membangun reputasi & mempertahankannya, atau gagal sama sekali.

Kita bisa saja berintegritas untuk memenuhi sebuah komitmen, atau menyerah sama sekali.

 

 

Segala IMPIAN & harapan, segala perubahan hidup yang sebenarnya bisa kita upayakan, dengan SENGAJA kita abaikan.

Jujur saja, kita LEMAH. Juga MALAS (nah lo :p )

 

 

Jadi yuk, tinggalkan segala macam alasan.

True strength is the ability toย eliminate excuses. Kekuatan sejati itu ada pada kemampuan menyingkirkan alasan ๐Ÿ™‚

Yuk, kita lakukan saja yang perlu dilakukan demi mencapai tujuan.

Jika perlu, kita lakukan yang LEBIH dari kebanyakan orang (sudah) lakukan. Itu tentunya, jika kita ingin mencapai hal-hal yang bagi kebanyakan orang tidak tercapai.

 

 

Setuju?!!

 

 

Sumber:ย http://dalepartridge.com/always-make-excuses-will-help/

Advertisements

Video

BELAJAR dari Pocoyo

 

 

Well, pastinya sih saya ngga tau ya, bagusnya tampilan tontonan anak-anak itu seperti apa.

Tapi kalo saya jadi anak-anak nih, saya suka yang kayak gini. Pocoyo ๐Ÿ™‚

 

 

Satu, tokoh-tokohnya digambarkan lucu.

Memang ngga sama persis dengan figur sebenarnya. Gajah, bebek, anjing, ulat, burung, gurita, paus…

Karna mestinya, kalo digambarkan sama bakal ilang ‘lucu’-nya.

Saya mbayangin, andai saya ini kanak-kanak, liat penggambaran mahluk-mahluk hidup tadi dalam tampilan sebenarnya, ngga seru!

Tapi kayaknya sih ada kok penjelasan ilmiahnya tentang ini.

Bahwa tontonan tuk anak-anak itu mestinya nampilkan gambar-gambar yang manis, yang lucu, yang ‘polos’.

Kayaknya yaaa, karna saya pernah denger & pernah baca juga ๐Ÿ˜‰

 

 

Dua, kisah-kisah keseharian anak-anak cukup terwakili.

Ada tawa, ada marah, ada penasaran. Bahkan ada ‘sok-sok-an’ & ‘berantem’ loh!

Cuma ditampilkan dengan ‘halus’.

Artinya, teteup ada cerita yang berlatar konflik, tapi dialirkan dengan manis. Ngga berkepanjangan.

Ada solusi cepat yang ampuh. Yang semua bisa terima.

Maaf & kompromi jadi 2 hal yang indah! Yang disuka (y)

 

 

Nah yang ketiga nih

Karna sekarang saya adalah orang tua, dengan 2 anak yang masih di bawah umur, Pocoyo ini masih jadi favorit saya loh!

Jujur, saya banyak belajar juga dari tontonan ini.

Paling utama yang poin 2 tadi: MAAF & KOMPROMI.

 

 

Bahwa sebenernya nih, kalo kita MAU, 2 hal itu MUDAH dilakukan.

Ngga perlu mengatasnamakan pertimbangan ini-itu deh.

Jujur aja, segala pertimbangan itu, kalo dipikir lebih dalam lagi, banyakan unsur egonya loh ๐Ÿ™‚

 

 

Pemain seringkali ngga bisa liat.

Penonton yang lebih PINTAR…

Jadi, kalo kita lagi ‘main’, sering-sering deh liat penonton hehe.

Amati reaksi penonton. Pelajari baik-baik.

 

 

Gimana? ๐Ÿ˜‰

Video

StoryTelling

โ€œIf you canโ€™t tell it, you canโ€™t sell it.โ€

Itu kata Peter Guber, Founder & CEO Mandalay Entertainment, bisnis besar yang bergerak di bidang perfilman, televisi, acara hiburan & olah raga, dan media digital.

Salah 1 film hit-nya adalah Batman.

Juga pemegangย franchise NBA Golden State Warriors & Los Angeles Dodgers.

Juga menjadi pengisi acara mingguan di tv untuk Fox Business News, sebagai analis media & hiburan.

Pendek kata, dia orang SUKSES & terkenal!

Dengan KUNCI sukses utama yaitu (purposeful) storytelling.ย Bercerita. Untuk meMOTIVASI, menarik PERHATIAN, membentuk OPINI, menjalin HUBUNGAN, hingga akhirnya berhasil menJUAL produk berikut layanan-layanan yang ditawarkan bisnis kepada para pelanggan.

 

Storytelling

Di tangan pebisnis, mempunyai ‘kekuatan’ menarik perhatian pelanggan hingga mampu melariskan produk berikut aneka layanan yang ditawarkan, LEBIH BAIK.

Storytelling yang baik dapat membangun REPUTASI bisnis yang baik pula.

Pelanggan, tanpa disadari, diarahkan tuk jadi LOYAL, bahkan sebagai media tuk memperbanyak pelanggan.

Selain itu, pebisnis jadi bisa lebih TERPACU untuk lebih giat lagi berKREASI. Baik dalam hal ‘bercerita’-nya sendiri maupun yang langsung berkenaan dengan produk.

Jadi inspiration for a product you create to sell.ย Begitu kurang lebih bahasa kerennya ๐Ÿ˜€

 

(Sumber:ย www.gkic.com/infosummit)

 

 

——

 

Bisnis, apapun bentuknya, pasti ada aktivitas berJUALANnya.

Jika dulu, sebelum dunia IT jadi secanggih sekarang, saat hampir semua orang menggunakan internet, aktivitas berjualan masih terbatas secara OFFLINE. Model-model tempat bisnis berbentuk bangunan fisik seperti kantor & toko masih jadi lokasi utama terpusatnya aktivitas bisnis. Baik bagi pelaku maupun pelanggan.

Sekarang, dengan adanya internet, ada pilihan lokasi lain, yaitu ONLINE. Zonanya beraneka. Bisa di facebook, di twitter, blog, pinterest dlsb.

Bisnis online maupun offline, jika ingin sukses seperti Peter Guber, ya harus ada sentuhan storytelling-nya. Bercerita langsung secara offline kepada pelanggan, atau melalui tulisan-tulisan di zona-zona online seperti di atas.

Artinya, setiap pebisnis harus PAHAM betul produk & layanan bisnis yang dia tawarkan. Jual HANYA barang-barang yang betul-betul dikuasai. Kandungan, manfaat, cara pakai… Termasuk kontraindikasi!

Paling SEDERHANA adalah dengan mengkonsumsi sendiri juga produk-produk bisnisnya. Memanfaatkan sendiri juga layanan-layanan bisnisnya.

Jangan berjualan dengan ‘semena-mena’!

Menawarkan ke mana-mana secara membabi-buta, semata-mata demi mengejar rupiah…

 

Ingat, pelanggan juga BUTUH diuntungkan.

Apa yang akan terjadi jika kebutuhan itu diabaikan oleh para pebisnis?

Jawab sendiri ya ๐Ÿ™‚

Semua berawal dari ‘I do’ ;)

Pernah liat dong pastinya, entah di film-film atau pun di kehidupan nyata, alias ngalamin sendiri (mungkin), bahwa 2 kata itu jadi semacam ‘janji’ dalam upacara pernikahan.

Si pria berjanji kepada si wanita, si wanita berjanji kepada si pria…

 

Memang setting-nya pernikahan ala bule sih, tapi jujur aja, 2 kata itu bikin saya cukup ‘jleb’ loh.

Satu, karna memang konteksnya janji, AKAD. Jadi sifatnya sakral. Harus dipenuhi. Ingkar, ke laut aje! :p

Dua, 2 kata itu emang arti bahasanya kan KERJA . Ada sebuah aktifitas yang terlibat. Bisa berupa rutinitas sehari-hari, bisa juga yang sifatnya lebih spesifik. Profesi misalnya. Kerja kantoran dsb.

Tapi intinya teteup kerja…

Tiga, kok ya saya ngeliatnya ada SEMANGAT yang terselip gitu loh.Semangat menjalani hidup, Semangat menuju hidup yang lebih baik, Juga semangat membantu memperbaiki hidup orang lain!

Ya ga sih?

 

Makanya, 2 kata itu sering juga dipake di konteks lain.

Bukan ngomongin pemakaian di bahasa aslinya aja, tapi juga terjemahannya di bahasa lain.

 

Sederhana aja, di bahasa Indonesia saya suka ngartiin jadi YA. Dari 2 kata jadi 2 huruf ๐Ÿ™‚

Anda siap menjadi suaminya? Ya!

Anda siap menjadi istrinya? Ya!

Itu kalo konteksnya upacara pernikahan.

 

Konteks lain misalnya…

Anda siap menjalankan tugas? I do… Ya!

Anda siap dengan konsekuensi pekerjaannya? I do.

Anda mau kan dapat gaji juta-juta sampe milyaran? I do!

Jadi mestinya Anda akan komit & konsisten dalam memenuhi TARGET & mewujudkan MIMPI dong!

I DO!!!

 

Ini konteks bisnisku sih… hehe…

Tapi nyambung kan?

Jadi ya udah. Bilang aja I DO ๐Ÿ˜‰

Kemampuan yang Terbuang :(

Dalam bus kota dan disuguhi pemandangan pengamen sudah jadi hal yang sangat biasa di Jakarta ini. Dari pengamen serius yang betul-betul menyuguhkan lantunan lagu merdu yang menghibur, sampai pengamen asal jadi, yang alih-alih menghibur, malah bikin sebal.

Tapi tak jarang, ada lho pengamen yang sebenarnya bisa dibilang serius, cuma ‘penampak’annya asal jadi, karena mungkin, merasa serba terkendala ini-itu.

Kemarin sore, saat saya sedang terkantuk2 di dalam bus, bukan ngantuk karena lelah dsb, tapi karena bosan dengan pemandangan macet jalanan. Plus, kebetulan langit sedang teduh, agak mendung, angin pun seolah mengerti kebosanan saya, hingga ditiup-tiuplah ini mata jadi terkantuk-kantuk hahaha…
Masuk seorang laki-laki yang secara perawakan sebenarnya proporsional. Hanya penampilannya kumuh. Dari ujung rambut sampai ujung kaki dekil total. Untung saya duduk agak jauh, hingga tak tercium aroma tak sedap yang sangat mungkin disebarkannya. Pikir saya, pasti bau banget itu orang (maaf).

Dia langsung ambil posisi berdiri dekat pintu, keluarin botol plastik kecil bekas kemasan minuman diet, dan mulai ngamen. Lagunya ‘Sepanjang Jalan Kenangan’, lagu nostalgia. Iringan musiknya dari botol bekas tadi itu, yang rupanya diisi sesuatu hingga jika dikocok menghasilkan bunyi mirip marracas, alat musik asal Amerika Latin, betul?

Suaranya tak terlalu keras, bahkan cenderung menggumam. Tapi karena jalanan sedang macet hingga bus lebih banyak berhenti, saya cukup bisa mendengar jelas nyanyiannya, pun iringan musiknya.
And to my surprise, suaranya bagus lho! Pertama, tangga nadanya benar, ketukannya pas, dan ada vibra!!! Cara dia memainkan ‘marakas’nya pun unik. Seolah tangannya memang dilatih betul untuk bisa menggoyangkan botol sedemikian rupa hingga menemukan iringan yang pas…

Buat saya, itu luar biasa. Bagaimana sebuah penampilan bisa begitu menyembunyikan kemampuan, yang sesungguhnya bisa diasah dan dibuat berkilau! Saya yakin, dari sekian banyak bus yang pengamen itu pernah masuki, nyaris tak ada penumpang yang memperhatikan sedetil saya. Karena saya pun, jika tak sedang dilanda bosan, mungkin juga enggan memperhatikan. Pengamen dekil, pastilah ngamennya asal jadi. Dan bau. Tak ada minat…

Dan ternyata saya keliru.
Sungguh suatu ironi ๐Ÿ˜ฆ

//

Semoga bermanfaat…

Mengartikan kata pasrah, betul jika segala sesuatunya ‘terserah’ kehendak Allah. Tapi pasti bukan karena kita manusia lantas berpangku tangan menunggu nasib, menunggu datangnya rezeki.
Hari-hari yang kita jalani harus penuh dengan bekerja. Memutar otak, membanting tulang, menimba ilmu, dan menghasilkan karya.

Tapi mengartikan itu semua bukan lantas berkontradiksi dengan pasrah. Karena bekerja dsb bukan berarti tidak pasrah. Justru, dengan bekerja, kita mensyukuri nikmat Allah. Karena Dia sudah begitu pemurah dengan memberi kita umur (panjang). Sudah begitu penyayang dengan memberi kita kesempatan berpikir dan berkarya.

Kita bekerja sekuat tenaga pun bukan karena hendak memaksakan keinginan agar dikabulkan Allah. Tapi lebih kepada berterimakasih telah diberi banyak bekal hidup yang bisa dimanfaatkan tuk kebaikan dunia, bahkan akhirat.

Kenikmatan dunia identik dengan materi, dengan uang. Subhanallah, ada begitu banyak uang yang Allah sebarkan di bumi ini. Untuk apa? Untuk kita manfaatkan tentu. Untuk kebaikan umat.
Tapi uang tidak datang begitu saja. Uang datang sebagai penyeimbang kerja. Semakin keras kita bekerja, bisa semakin deras uang datang. (Hingga lantas terjadi pergeseran makna bekerja, bergeser pula manusia memaknai uang. Sangat disayangkan ๐Ÿ˜ฆ )

Sesungguhnya, bukan uang yang jadi tujuan dari bekerja. Tapi uang bisa jadi pengukur, sudah seberapa keras kita bekerja. Sebagai layaknya dunia materi yang kita tinggali saat ini, mengukur dengan uang bisa saja dilakukan. Bukan karena berpikir dan berlaku bak penganut aliran materialis, tapi semata karena barometer tersederhana adalah uang, materi.

Jadi mari bekerja keras, sekuat tenaga kita, sebagai wujud dari syukur kita kepada Allah. Sebagai bagian dari ibadah.
Biarkan uang mengalir sebagai pengukurnya. Biarkan pula uang melimpah di tangan kita. Selama kita bekerja, itu hal yang biasa.
(Kecuali jika uang mengalir tanpa ada kerja! Naudzubillah…)

Kita makan untuk hidup, bukan hidup untuk makan.
Jadi, kita punya uang karena bekerja, bukan sebaliknya ๐Ÿ™‚

http://www.dbc-network.biz/?id=junizar

Yang Penting Selalu Siap akan Sebab-Akibat

Pernah kan liat orang yang kalo dilarang malah makin jadi?

Mmm mungkin juga karna CARA ngelarangnya yang ga pas, makanya orang jadi OGAH nurut.
Atw, karna emang ga suka sama yang ngelarang, jadi malah memicu DEMO.

Tapi memang pada dasarnya, semakin ada ‘larangan’, orang akan semakin PENASARAN. Ada ‘godaan’ tuk malah nge’bongkar’…

Temptation, alias godaan itu, mungkin bisa aja dilakoni. Asal terkendali.
Artinya, menyalurkan rasa penasaran tadi dengan kesadaran penuh, sehingga bila terjadi sesuatu di KEMUDIAN HARI, diri sendiri sudah (sangat) SIAP menghadapi.

#teorisaya

Image

Previous Older Entries

%d bloggers like this: