Krayon dan Buku Sketsa di Tangan Si Bungsu

Aslinya sih sama saja dengan anak-anak seusia lainnya. Paling sering memohon dibelikan mainan atau pernak-pernik warna-warni kerlap-kerlip yang menarik perhatian di sepanjang waktu mata berkelana. Bisa dari barang-barang yang dipajang di tempat-tempat perbelanjaan, dari barang-barang yang dijumpai di diri anak-anak sekitar, atau sekedar tertarik tayangan di layar kaca. Itulah bungsu saya. 🙂

 

Sekali waktu dia pingin punya pakaian ala Princess Sofia, salah satu tokoh serial kartun anak di layar kaca. Di waktu lain, dia minta dibelikan mainan persis seperti yang dimiliki teman sekolahnya.

Tapi kami, orang tuanya, hampir tak pernah memenuhi keinginan-keinginannya yang itu. Bukan semata demi mengajarkan supaya tidak manja, segala keinginan bisa dengan mudahnya dipenuhi, tapi karena keinginan yang demikian kurang mengajarkan kreativitas. Pakaian dan mainan itu cenderung membuatnya jadi pasif, hanya bisa mengagumi, menikmati, dan saat nanti sudah bosan, dicampakkan begitu saja.

 

Kami lebih senang mengajaknya untuk berbelanja alat-alat tulis, gambar dsb. Persis seperti yang kami biasakan ke abangnya dulu.

Maka beberapa hari lalu, saat dia kembali memohon-mohon untuk dibelikan mainan, kami mengajaknya ke toko alat-alat tulis di pasar. Kami bebaskan matanya berpesta dengan sekian banyak pilihan perlengkapan gambar dan mewarnai. Sepuasnya. Sampai akhirnya dia putuskan ingin punya yang mana. Satu set krayon dengan 60 warna, berikut alat raut dan pelindung jari supaya tidak berlumuran warna. Plus satu buku sketsa ukuran A3 dengan jumlah halaman 100 lembar.

 

Ini, adalah salah satu hasil karyanya.

IMG-20150119-00248

 

 

“Waktu adzan Maghrib, langitnya biru tapi dua. Ada muda, ada tua. Ga lurus. Belok-belok warnanya. Karna langitnya biru, rumput-rumput yang berdiri ikut biru. Yang ga biru cuma mesjidnya. Abu-abu. Karna hari udah agak gelap. Sebenernya sih, warna mesjidnya putih.”

Begitu ceritanya. 😀

Waktu… sekali terjadi, tak akan terulang…

Seorang kerabat mengirim cerita ini…

“Seorang dokter yang bertugas di sebuah desa sedang berkeliling ke rumah warga. Ia terkesan oleh kepandaian dan keramahan seorang anak perempuan berumur 5 tahun yang menyambut kedatangannya dengan ramah. Tak lama ia menemukan jawabanya, saat ibu anak itu sedang sibuk di dapur mencuci piring-piring dan perkakas dapur yang kotor. Si anak datang kepadanya sambil membawa sebuah majalah.

“Bu…, apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini…..?” tanyanya.

Sang dokter tersenyum kagum ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menerangkan serta menjawab berbagai pertanyaan buah hatinya. Setelah anak itu beranjak pergi, sang dokter menghampiri ibu itu dan berujar, “kebanyakan ibu tidak mau diganggu saat ia sedang sibuk. Mengapa ibu tidak seperti itu?”

Dengan senyum si ibu menjawab, ” Saya masih bisa mencuci piring dan perkakas kotor selama sisa hidup saya, tetapi pertanyaan-pertanyaan polos putri saya mungkin tidak akan terulang sepanjang hidup.”

——

Dan saya terdiam lama setelah membaca cerita itu. Terbayang sekian banyak komunikasi saya dengan anak-anak yang terputus karena ketidakpedulian saya akan keingintahuan mereka. Segala pertanyaan yang seharusnya bisa menambah pengetahuan mereka, mendekatkan mereka dengan alam semesta, bahkan menjadi penyebar semangat hidup, terlewat begitu saja tanpa jawaban yang jelas. Yang ada hanya ‘nanti, ibu sedang sibuk’ atau ‘ssstttt, diam dulu’ 😦

Maafkan ibu yaaaa…

Si Bungsu dengan ‘Puppet Show’ -nya :)

Kepalanya diambil dari mainan alat musik. Yang ijo marakas, yang kuning… ga tau aku apa namanya…

Badan/bajunya diambil dari mainan baju b*rb*e.

Dibelit ke ‘handle’ alat musik, dikencengin pake tali ‘n perekat. Trus tangannya dimasukkin ke dalem baju, megang handle-nya alat musik.

Duduk di lantai, tangan diangkat ke kursi, ibarat kursi itu panggung puppet show. Sambil kepala agak diumpetin, digoyang-goyang deh puppet-nya 😀

*tepuktangankenceng

Image

‘Prestasi’ Balitaku

Semua benda di depan mata (hampir) bisa dijadikan mainan oleh anak-anak usia balita. Tak jarang, usia di atas balita pun demikian. Bagi si balita, segala sesuatunya masih bagaikan hal baru yang perlu dieksplorasi. Dari sekedar batu kerikil di pekarangan rumah, sampai ke perangkat teknologi canggih di meja kerja orang tuanya (hahaha).
 
Dengan sengaja atau tidak, bila kita ‘mengizinkan’ si balita menyibukkan diri dengan ‘penelitiannya’ atas sesuatu, bisa berarti kita membuka jalan baginya untuk berprestasi. Bukan prestasi dalam bentuk perolehan penghargaan dari sebuah institusi, seperti piagam dan sebagainya, tetapi lebih kepada prestasi mengembangkan keberanian dan percaya diri dalam memuaskan rasa ingin tahu dan menerapkan pengetahuan.
 
Bicara soal pengetahuan balita, tentu sama sekali bukan pengetahuan layaknya yang diajarkan di institusi-institusi pendidikan formal. Karena terhitung sejak masih dalam kandungan ibunya, setiap calon manusia sudah dibekali pengetahuan oleh Yang Maha Kuasa. Hingga masih terhitung usia balita pun, pengetahuan itu sudah ada, siap diterapkan, siap pula dibagikan. Bungsuku, balitaku, berkali-kali membuktikan kebenaran ‘teori’ itu. Foto berikut ini adalah salah 1 ‘temuannya’…
 
Image
 
“Aku mau ishi alel ke dalam botol. Tapi lubangnya kecil, jadi dawi kwan ka bisha masuk alelnya. Kebesawan. Jadi haus dawi gayung dulu. Kao alelnya uda penuh, nanti dia jatoh jadi kecil. Twus bau bisha masuk botol,” gitu penjelasannya (hihihi).

Image

Sulung versus Bungsu: Beda Selera Makanan = Beda Karakter?

‘You are what you eat’, gitu kata orang. Seleramu terhadap makanan nunjukkin siapa kamu, gitukah artinya?

Sayangnya, orang bilang gitu ga disertai penjelasan lebih lanjut. Maksudnya, yang doyan makan gorengan, berarti karakternya gimana. Yang doyan kuah2, karakternya gimana. Yang doyan pedes, asem, atau jenis makanan negara sendiri & negara2 lain, karakternya gimana. Teerus, gimana juga yang doyan segala? Model2 kayak aku, yang suka-ga-suka, enak-ga-enak, apa yang ada, itu yang dimakan, gimana… hehe *nyengir*

Jadinya aku ngartiin sendiri aja. Liat dari keseharian orang2 sekitar, terutama keluarga sendiri. Sulungku, ga gitu doyan cemilan. Urusan makan, maunya ya makan besar, alias makan utama. Setiap kali lapar, meski belum waktunya makan, mau isi perut ya kudu makan besar, bukannya cemilan. Makan besar, minimal nasi n lauk-pauknya. Kalo toh adanya cemilan, porsinya harus setara makan besar. Ini, ngepas banget dengan karakternya yang ga suka hal2 kecil. Ngerjain ini-itu, maunya yang ‘besar’, yang fenomenal, yang bisa bikin dia cerita heboh ke orang2. Kayak sekarang nih, dia lagi doyan banget sama senjata. Jadilah dia gali info berbagai bentuk senjata. Kadang dia tiru bikin2 replikanya pake lego, atau pake kayu, gergaji2 sendiri. Tapi ga mau peduli sama detil2 kayak sejarahnya: siapa penemunya, ditemukannya di mana, didistribusikannya ke mana, dsb dst… -> ‘you are what you eat’ -nya dia

Si bungsu lain lagi. Makan, maunya cemilaaaan terus. Tiap kali makan, selalu mulai dari ‘dessert’. Kalo masih lapar, baru lanjut ke ‘main course’. Kalo udah keburu kenyang ya stop. Ga pake ‘main course’2an. Porsinya pun dikit2. Cara makannya pun ditata. Biasanya lengkap, pake mangkok, sendok-garpu, n tisyu. Sebelum makan, siapin minum dulu air putih segelas. Detiiill banget!

Karakternya, doyaaann banget printil2. Mau pergi gitu, heboh banget. Yang siapin mainan, trus siapin tas. Jumlah n jenis mainan kudu disesuaiin sama lokasi tujuan perginya. Mau ikut ayah ke kantor misalnya, yang disiapin biasanya buku n alat2 tulis. Mau ikut ke mall, yang disiapin boneka. Mau silaturahmi ke rumah kenalan atau kerabat, yang disiapin buku n boneka. Gitu… *geli*

Itu, nyambung ga ya sama maksud sebenarnya ‘you are what you eat’?

"Makan ga boleh pilih2, Azza," kata Abang :D

“Makan ga boleh pilih2, Azza,” kata Abang 😀

Image

%d bloggers like this: