Tahukah Anda?

Jika ada tontonan yang menampilkan perdebatan atau yang sejenisnya, siapa yang paling dulu muncul sebagai ‘pemenang’?

Jika ada siaran radio yang memperdengarkan perdebatan atau yang sejenisnya, siapa pula yang paling dulu muncul sebagai ‘pemenang’?

Seseorang pernah mengatakan kepada saya, jawabnya adalah: PENONTON atau PENDENGAR.

Karena, di antara para pendebat dan penonton / pendengar, yang lebih ‘pintar’ adalah yang kedua!

Seringkali bahkan, lebih bijak. Karena relatif lebih bisa melihat permasalahan secara obyektif. Pun, lebih mampu menilai perilaku para pendebat, siapa yang paling ‘pintar’ berargumentasi.

Mungkin itu sebabnya, mengapa selalu ada pihak ketiga dalam setiap perdebatan. Ibaratkan saja perdebatan itu terjadi antara dua pihak, karena memang, suatu perdebatan baru bisa terjadi jika minimal ada dua pihak yang ‘berseberangan’.

Pihak berikutnya adalah ‘penonton’. Bisa dalam arti sebenarnya, dengan kata lain, benar-benar menonton, posisi di luar ‘panggung’. Bisa juga dalam arti semacam moderator, mediator, penengah dsb. Atau, bisa juga pihak ketiganya berupa rekaman audio / visual. Yang jika dimainkan ulang, bisa langsung diteruskan tayangannya kepada penonton / pendengar sesungguhnya. Seperti yang baru saja saya dengar sore tadi…

Sebuah rekaman percakapan antara dua pihak yang (cenderung) berseberangan. Satu sama lain saling mempertahankan kebenaran. Meskipun kebenaran yang dimaksud sebenarnya sepihak. Artinya, hanya ‘benar’ menurut pertimbangan pribadi. Tidak berlaku umum. Subyektif.

Dan subyektifitas itu, sangat bisa berujung pada pergolakan emosional, lalu berakhir dengan pertengkaran. Tak jarang bahkan melibatkan pergulatan fisik!

Tapi saya, sebagai penonton, pendengar, pihak ketiga, tentu akan lebih pintar. Lebih bisa melihat permasalahan secara utuh, bahkan lebih bisa mencarikan solusi. Sayangnya, tak seorang pun yang MAU bertanya kepada saya. Para pendebat cenderung menyibukkan diri mencari pendukung, menggalang massa dsb.

Akhirnya, SAYA pun lebih memilih pulang, meninggalkan semua keributan di belakang saya. Melenggang santai kembali ke RUMAH. Tempat saya bisa leluasa menuangkan pengalaman sekaligus pembelajaran hidup. Dari tempat belajar yang gratis, tak perlu bayar uang pendaftaran, tak perlu bayar uang sekolah, tak perlu mengenakan seragam…

Bahkan, jika saya mau, saya bisa mendapatkan UANG dari hasil ‘belajar’ saya itu!

Advertisements

Image

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: